Jul 4, 2019

Review Buku Good Bye Things : Hidup minimalis ala orang jepang





Saya tertarik dengan buku ini dan konsep minimalis karena sebelumnya saya merasa bahwa semua barang saya sudah terlalu banyak, baik di kamar, di ruang tamu bahkan garasi mobil. Mau bagaimanapun di rapikan, kerapiannya hanya bertahan selama 2-3 hari, lalu saya pergi ke tempat belanja atau online shop, dan membeli barang baru, hingga akhirnya menumpuk, kemudian berantakan. Hingga akhirnya, saya merasa malas sekali untuk membereskannya. Tapi pusing sekali melihat keadaan berantakan seperti itu.


Setelah mencari pencerahan dimana mana, akhirnya saya menemukan konsep dalam hidup minimalis, dan menemukan buku ini di Toko Buku, dari sinilah saya memulai konsep hidup minimalis.




Dalam buku ini, Sasaki yang merupakan penulis dari Buku ini, menjelaskan bahwa sejak zaman dahulu, barang hanya digunakan untuk mempermudah hidup kita, bukan untuk menguasai diri kita. Seperti ada keinginan membeli banyak buku, supaya terlihat diri kita memiliki pengetahuan yang luas, padahal membacanya saja belum tentu memiliki waktu. Membeli jaket kulit, dress yang indah dan sebagainya, dengan harapan suatu hari mungkin akan dipakai, padahal tidak memiliki waktu untuk jalan jalan atau bersosialisasi. Dengan kita membeli banyak barang hanya untuk memenuhi gengsi kita, kita artinya sudah dikuasai barang.



Ketika kita dikuasai oleh barang ataupun benda, kita akan memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki baju, mobil, rumah dan sebagainya yang kualitasnya jauh lebih bagus dari kita. Faktor inilah yang akan memberikan efek negatif dalam diri kita, menjadi kurang bersemangat, kurang bersyukur, rendah diri, dan sebagainya.

Supaya kita tidak berkubang dalam kesedihan seperti itu, maka ada baiknya menerapkan prinsip hidup minimalis.

Prinsip minimalis ini ternyata bisa mengurangi rasa stress, lebih berkonsentrasi, lebih menjaga kesehatan, merasa lebih segar, dan yang utama merasa lebih bahagia. Hal ini adalah dampak yang dirasakan sang penulis, Fumio Sasaki, karena sebelum ia mempraktekkan prinsip minimalis ini, ruangan kamarnya sangat berantakan, banyak barang bertumpuk, stress, rendah diri dan jenuh terhadap pekerjaannya, padahal pekerjaannya itu adalah pekerjaan yang ia idamkan.

RINGKASAN BUKU
  • “Ada kebahagiaan karena memiliki lebih sedikit. Itulah mengapa sekarang saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada semua hal ekstra kami. Itulah versi minimal dari pesan yang ingin dia sampaikan dalam buku ini. "
  • "Itu juga sebagian alasan mengapa sasaki menulis buku ini. Meskipun itu bukan satu-satunya motivasi dia, dia ingin membuktikan kepada diri nya bahwa ada semacam nilai bagi keberadaan dia. "
  • Mengapa kita memiliki banyak hal saat kita tidak membutuhkannya? Apa tujuan mereka Saya pikir jawabannya cukup jelas: Kita putus asa untuk menyampaikan nilai diri kita. Kita menggunakan benda-benda untuk memberi tahu orang betapa berharganya diri kita. ”

Buku ini sangat baik bagi yang hidupnya sangat boros atau merasa kurang akan barang barang dalam kehidupannya. Hidup minimalis bukan hanya trend semata, tapi ini adalah gaya hidup yang sangat baik untuk diterapkan di kehidupan modern ini.

Sekian dan terima kasih.

No comments:

Post a Comment