Oct 26, 2018

Impostor syndrome, gejala yang membuat Kamu tidak percaya diri

Ada gejala menarik yang menyebabkan seseorang menjadi depresi dan tidak percaya pada diri sendiri. Ini merupakan fenomena psikologis yang mungkin banyak dimiliki oleh kaum milenial saat ini. Terlebih dari gampangnya akses informasi kepada publik tentang gaya hidup orang-orang sukses dan kaya. Akan semakin membuat mereka merasa kecil.



fenomena psikologi ini juga membuat sang penderita tidak percaya telah meraih kesuksesan, dan "terpaksa" berpura-pura menjadi orang lain. Fenomena ini ditemukan pada beberapa orang ambisius, terutama perempuan yang cenderung tidak memercayai kemampuan mereka sendiri.


Orang yang memiliki impostor syndrome merasa dirinya tidak kompeten, padahal sebenarnya bisa saja dia lebih baik dari yang dia pikir. 

Valerie Young, seorang psikolog yang sudah lebih dari 10 tahun mendalami topik ini, mengkategorikan penderita impostor syndrome dalam 5 tipe individu:

The Perfectionist

Ini adalah tipe impostor syndrome yang paling umum. Tidak mengherankan memang. Orang-orang yang perfectionist biasanya membuat goal yang sangat tinggi untuk diri mereka sendiri. Tetapi ketika gagal mencapai goal tersebut, kepercayaan diri mereka turun drastis dan sulit untuk naik lagi. Tipe ini sangat jarang puas dengan kesuksesan mereka karena mereka percaya bisa melakukan yang lebih baik lagi. Padahal, terus-menerus punya pemikiran seperti ini sama sekali tidak sehat.


Mengakui dan merayakan pencapaian yang berhasil kamu dapatkan juga sangat penting. Dengan begitu, kamu bisa merasa lebih tenang dan menemukan kepercayaan diri. Bagaimanapun, tidak akan ada pekerjaan yang 100% sempurna—semakin cepat kamu bisa menerimanya, semakin cepat pula kamu merasa lebih baik.

The Superman / Superwoman

Karena penderita impostor syndrome percaya bahwa mereka adalah penipu di antara orang-orang kompeten di sekitar mereka, seringkali mereka terlalu mendorong diri sendiri untuk bekerja jauh lebih keras. Workaholic impostor terobsesi dengan pengakuan yang mereka dapatkan karena bekerja terus-menerus, bukan proses atau hasil bekerjanya. Tetapi tetap saja, kerja keras tidak bisa menghilangkan insecurity tipe ini. Jika dibiarkan, beban kerja mereka bukan hanya membahayakan kesehatan mereka sendiri tetapi juga hubungan dengan orang-orang di sekitar.


Kalau kamu merasa masuk dalam tipe ini, kamu perlu ingat bahwa tidak ada orang lain yang bisa membuatmu merasa lebih baik selain diri sendiri. Kamu bisa mulai untuk sedikit-sedikit meninggalkan kebutuhan akan external validation. Jika lebih berfokus pada internal validation, rasa percaya diri bahwa kamu seseorang yang kompeten akan muncul dan caramu bekerja pun akan lebih masuk akal.

The Natural Genius

Penderita impostor syndrome tipe ini biasanya menganggap kemampuan berbanding terbalik dengan usaha. Mereka berasumsi bahwa jika mereka harus bekerja keras untuk sesuatu, pasti mereka payah dalam hal itu. Seperti tipe Perfectionist, Natural Genius membuat goal yang luar biasa tinggi untuk diri sendiri. Bedanya, mereka tidak menilai diri sendiri berdasarkan ekspektasi yang tidak masuk akal, melainkan berhasil atau tidaknya mereka melakukan sesuatu untuk pertama kali. Jika mereka tidak bisa melakukannya dengan cepat atau sangat baik, mereka langsung merasa tidak percaya diri.


Coba sekarang, mulai melihat proses dan kemajuan kerjamu. Daripada memaksakan diri mencapai standar yang tidak masuk akal, ubah kebiasaanmu agar menjadi lebih baik. Misalnya, kalau kamu ingin berbuat lebih di kantor, lebih baik kamu berfokus untuk meningkatkan skill tertentu daripada mencoba melakukan semua hal, lalu menganggap diri sendiri tidak berguna ketika kamu tidak berhasil.

The Rugged Individualist

Rugged individualist menganggap bahwa meminta bantuan orang lain akan menunjukkan ketidakmampuan mereka. Penderita impostor syndrome tipe ini merasa mereka harus mencapai semua goal mereka tanpa bantuan orang lain. Akibatnya, pikiran mereka akan terbebani karena tenaga yang diforsir habis-habisan.

Tidak ada salahnya, menjadi mandiri. Tetapi, kamu juga perlu ingat bahwa tidak semua hal bisa kamu lakukan sendiri. Jangan tolak bantuan orang lain hanya untuk membuktikan self-worth kamu.

The Expert

Penderita impostor syndrome menganggap bahwa mereka tidak pantas mendapatkan pengakuan atau prestasi apa pun, apalagi dalam hal pekerjaan. Tipe Expert seringkali merasa kalau mereka “menjebak” employer yang sudah merekrut mereka. Diam-diam, mereka selalu takut employer akan tahu bahwa mereka tidak punya pengetahuan, kemampuan dan pengalaman yang cukup. Mereka juga terus-menerus merasa tidak cukup bisa melakukan pekerjaan mereka. Ketika sedang mencari pekerjaan pun, mereka cenderung tidak percaya diri melamar kerja kecuali sudah mencapai expertise level tertentu untuk skill yang dibutuhkan.

Memang selalu ada banyak hal yang perlu dipelajari untuk bisa bersaing di kehidupan. Namun, Jangan membebani diri dengan rasa bersalah yang sebenarnya tidak perlu. Sharing dengan teman kerja atau volunteering juga bisa menjadi alternatif untuk membuat inner expert-mu lebih puas. Perasaan bahwa kamu seorang penipu juga perlahan-lahan bisa hilang.

Singkatnya, impostor syndrome lebih berbahaya untuk diri sendiri dibandingkan orang lain. Beberapa pakar psikologi sebenarnya berkesimpulan bahwa impostor syndrome adalah tanda orang tersebut akan melakukan hal-hal yang hebat. Akan tetapi, impostor syndrome yang dibiarkan sampai terlalu intens bisa berujung pada anxiety akut dan depresi. Apa gunanya kesuksesanmu diakui dan dianggap penting oleh seluruh dunia kalau kamu sendiri tidak menyadarinya?

Perlahan-lahan, bangun kepercayaan dirimu dan lihat kembali yang sudah kamu lakukan selama ini. Yuk, mulai berbaik hati pada diri sendiri dan akui bahwa kamu mampu dan punya kesempatan untuk memberikan pengaruh positif pada dunia.

3 comments:

  1. gak tau apakah imposture syndrom atau emang gak percaya diri dari dulu

    ReplyDelete
  2. ini yang selalu saya pikirkan

    ReplyDelete
  3. I quess i am on that phase

    ReplyDelete