May 14, 2018

Pengusaha yang Takutan dan Suka Menunda, Tapi Sukses?


Mahdianto - Bayangkan ini.

Kamu adalah calon investor yang sedang mendengarkan presentasi seorang mahasiswa tentang perusahaan yang sedang dia kembangkan bersama dengan teman – teman se-kuliahnya. Dia punya ide untuk membuat toko kacamata online.

Ide yang berpotensi, kamu pikir. Tapi orang yang beli kacamata biasanya menyocokkan dulu kacamata dengan mukanya, hal yang susah kalau kacamatanya dijual online. Perlu effort yang lebih tinggi untuk membuat pembeli tertarik membeli di toko kacamata online.

Dengan sisa waktu 6 bulan lagi sebelum launching, dan dengan website yang bahkan belum mereka buat, kamu menjadi skeptis. Jadi kamu coba cek keseriusan mereka, dengan menanyakan ini:

“Di saat mepet -seperti saat ini- apa kalian pernah terlintas untuk DO dan fokus pada perusahaan?”

“Wah kami gak berani pak. Kami juga masih ragu juga dengan ide kami, jadi kami mengerjakan ini sambil kuliah saja”

Masuk akal kalau mereka masih mau kuliah, tapi tidak yakin dengan idenya sendiri? Kamu tambah skeptis.

Walaupun begitu, masih ada harapan. Kamu bertanya lagi kepada mereka:

“Karena kalian masih kuliah, waktu kalian untuk mempersiapkan launching juga terbatas. Apakah kalian akan fokus hanya untuk persiapan ini selama 6 bulan kedepan?”

“Oh, kami semua juga ada mengambil magang di perusahaan lain di saat itu. Saya sendiri mendapat magang di perusahaan konsultasi”

Dengan waktu yang terbatas dan deadline yang semakin dekat, mereka bahkan masih terpikirkan untuk ambil magang? Apa benar mereka serius?

Tapi kamu juga tahu kalau beberapa bulan kedepan mereka akan lulus dari kuliah. Jadi seharusnya mereka punya waktu luang lebih banyak untuk dedikasi dan fokus pada perusahaan.

“Sebentar lagi kan kalian bakal lulus, berarti setelah itu kalian semua bisa fokus ke perusahaan ya”

“Sebenarnya tidak juga pak, kami semua sudah diterima di tempat kerja lain, untuk jaga – jaga kalau perusahaan ini tidak berprospek nantinya. Saya sendiri juga sudah dapat tawaran dari perusahaan konsultan tadi untuk kerja full-time”

Dengan itu, kamu menolak untuk investasi di perusahaannya.

Mana ada entrepreneur yang terlalu takutan, gak mau ambil resiko, dan di saat paling krusial, malah gak fokus ke perusahaannya?

Tapi justru itulah yang dilakukan oleh para founder Warby Parker.

Warby Parker adalah perusahaan penjual kacamata online pertama di Amerika. Saat ini, dia sudah menerima pendanaan sebesar 300 Juta Dollar, dan memiliki valuasi sebesar 1.2 Miliar Dollar.

Cerita di atas didasarkan pada kisah yang nyata.

Saat itu Adam Grant, professor psikologi dari Penn State University, diberikan presentasi yang sama oleh Neil Blumenthal, penemu Warby Parker yang juga muridnya. Seperti yang diceritakan di atas, Adam menolak proposisi Neil.

Kenapa para penemu Warby Parker bisa sukses, padahal apa yang mereka lakukan sepertinya tidak sejalan dengan sifat entrepreneur yang sukses?

Bukankah entrepreneur yang sukses adalah mereka yang gemar mengambil resiko dan tidak menunda – nunda?

Di bawah, kita akan lihat kenapa jawaban dari pertanyaan ini adalah “tidak”.

Kebanyakan Resiko Tidak Baik

Dalam pikiran kita, entrepeneur yang sukses adalah mereka yang berteman dengan tantangan. Tidak seperti orang awam yang sebisa mungkin menghindari resiko, mereka justru terlihat gemar mencari resiko.

Padahal kalau kita lihat lebih dalam, mereka juga sama seperti manusia biasa. Mereka juga kadang merasa tidak yakin dengan ide mereka sendiri, karena mereka melihat resiko besar yang muncul dengan ide tersebut.

Selain Warby parker, banyak orang sukses lain yang mengambil pekerjaan di luar perusahaan mereka.
Misalnya Steve Wozniak, yang setelah menyelesaikan produk Apple 1 dan membuat perusahaan Apple bersama Steve Jobs, masih melanjutkan pekerjaannya di HP.

Contoh lain adalah Brian May, yang saat itu sedang menjalani studi S3 astrofisika selagi bermain gitar di dalam band sampingannya. Dia tidak ikut fulltime ke dalam band-nya, Queen, sampai beberapa tahun berikutnya.

Kok, pilihan mereka malah terbalik dari yang dipercaya? Tapi pilihan mereka juga didukung oleh riset.

Joseph Rafiee dan Jie Feng melakukan sebuah riset untuk menelusuri apakah seorang entrepreneur baru sebaiknya melepas pekerjaannya untuk fokus pada perusahaan, atau sebaiknya dia mengambil pekerjaan di luar selagi mengurus perusahaannya. [1]

Mereka menemukan kalau orang – orang yang mengambil pekerjaan di luar perusahaannya memiliki tingkat kebertahanan sebesar 33% lebih tinggi dibandingkan orang – orang yang semata – mata fokus ke perusahaan mereka.

Memang di tahap awal, ketika perusahaan belum terlalu besar, merupakan masa dimana kita harus paling berhati – hati. Kita tidak tahu pasti apakah perusahaan kita berprospek bagus atau tidak kedepannya.

Founder Warby Parker tahu betul akan resiko gagalnya perusahaan mereka. Karena itu, mereka berhati – hati, dan mengimbangi resiko ini dengan mengambil pekerjaan lain. Karena kehati – hatian inilah, perusahaan mereka lebih tinggi tingkat kebertahanannya.

Karena perusahaan yang mereka coba kembangkan memiliki resiko besar untuk gagal, mereka mencari keamanan di tempat lain, dengan cara mengambil pekerjaan di luar. Dengan adanya keamanan di satu tempat, mereka bisa mengambil resiko sebesar – besarnya untuk perusahaan mereka.

Entrepreneur yang paling sukses bukanlah yang terjun bebas tanpa mengecek parasut mereka. Tapi mereka yang mengecek tiga kali parasutnya, menghitung trajektori tempat mereka akan mendarat, dan membuat plan b apabila tiba – tiba semuanya gagal saat terjun.

Agak Ntaran Deh

Sudah jadi kepercayaan umum rasanya, bahwa untuk sukses kita tidak boleh menunda – nunda pekerjaan. Walaupun deadline-nya minggu depan, baiknya mulai diselesaikan dari sekarang juga.

Tapi kita akan lihat bahwa justru dengan menunda, kita bisa memunculkan inovasi – inovasi kita. Kadang juga orang – orang yang menunda malah yang menang dibanding orang yang mulai duluan.

Seperti Warby Parker, yang hanya dengan sisa waktu 6 bulan bahkan belum membuat website, ada juga satu orang revolusioner yang menggunakan sifat menunda-nya untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dia.

Martin Luther King Jr. terbangun di malam sehari sebelum pidato terkenalnya. Pidato ini akan ditonton oleh jutaan orang di dunia, dengan banyak tokoh – tokoh penting lainnya yang hadir. Dia akan menyampaikan pidatonya di urutan terakhir, sehingga krusial untuk apa yang dia sampaikan memunculkan inspirasi dan membuat kesan yang kuat.

Walaupun dengan gravitasi keadaan sebesar itu, bahkan sampai jam 3 dini hari naskah pidatonya belum juga selesai. Padahal dia bisa saja menyelesaikan naskah berhari – hari sebelumnya.

Tapi mungkin justru karena penundaan inilah, pidatonya bisa memberikan efek se-historis yang kita ingat sekarang. Alasannya: Menunda atau prokrastinasi adalah satu mode pembelajaran di dalam otak kita.

Manusia memiliki dua mode pembelajaran: mode fokus dan mode difusi. Mode fokus adalah ketika kita berpikir secara sadar untuk memproses informasi di dalam otak. Mode difusi adalah ketika kita membiarkan pikiran bawah sadar kita memproses informasi yang kita punya. Otak kita belajar dengan paling efektif apabila kita bergantian menggunakan mode fokus dan mode difusi [3]

Ketika kita sedang dalam mode difusi, informasi yang kita miliki diproses secara tidak sadar oleh otak, sehingga informasinya menjadi lebih matang di dalam pikiran.

Saat MLK menunda pembuatan naskahnya, dia membiarkan pekerjaan tersebut berjalan di belakang kepalanya, sehingga ketika sampai waktu untuk membuat naskah, semua ide yang mau dia jelaskan sudah matang.

Selain secara psikologis, menunda juga punya kelebihan dalam dunia persaingan.

Perusahaan yang masuk lebih lama bisa menggunakan waktunya untuk memperkenalkan produk yang lebih berkualitas, daripada perusahaan pionir yang bergerak terburu – buru untuk lari dari perusahaan lain yang mengejar dari belakang.

Peter N. Golder melakukan sebuah riset untuk mengetahui mana yang lebih banyak punya kelebihan, para pionir atau para pengikutnya. Dia menemukan kalau 47% pionir market pada akhirnya gagal, dan hanya 11% pionir yang saat ini menjadi penguasa pasar di bidangnya. Dia juga menemukan kalau rata - rata penguasa pasar masuk 13 tahun setelah pionir masuk.

sumber

kesimpulan:

Entrepreneur, lain dengan kepercayaan umum, juga takut kepada resiko dan kadang menunda – nunda.

Walaupun begitu, mereka menggunakannya untuk mendukung, bukan menghalangi usaha mereka.

Mereka takut kepada resiko, karena takut kedepannya pilihan mereka bukanlah yang terbaik. Jadi mereka menyeimbangi resiko yang mereka pegang dengan keamanan di tempat lain. Mereka tidak menghindari resiko, tapi meminimalisir efek dari resiko yang mereka ambil.

Mereka menunda, karena tidak yakin apakah sekarang adalah waktu yang terbaik. Bisa saja ada inspirasi yang tiba – tiba datang di tengah. Mereka menunda secara strategis, untuk lebih banyak memunculkan inspirasi yang datangnya tidak bisa ditebak.

Ada aspek yang sama dari dua sifat di atas. Keraguan.

Keraguan membuat mereka lebih berhati – hati untuk maju kedepan.

Keraguan membuat mereka menjadi lebih rendah hati. Membuat mereka sadar kalau, walaupun dengan keadaan se-ideal mungkin, ada saja hal di luar dugaan yang akan terjadi.

Jadi, untuk orang – orang yang sekarang sedang berusaha, tanyakanlah pertanyaan ini: Apakah ada keraguan dalam hatimu?

Kalau jawabannya ya, besar kemungkinan kamu berada di jalan yang benar.