Mar 29, 2018



Tidak ada yang memungkiri bahwa hari ini dunia semakin kompetitif, dengan semakin banyak peluang, kesempatan dan karir yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan. Tapi jangan dikira, Salah-salahnya bila kita tidak bisa mengikuti perkembangan dan trend zaman, kita akan di gilas oleh roda kehidupan (gaya amat bahasanya, haha). So, tidak ada salah dan kelirunya bila kita meningkatkan kemampuan dan skill kita, bukan karena kita ingin diterima kerja (sekedar itu saja), tetapi karena peningkatan skill pribadi juga menunjukan bahwa kita senantiasa berkembang dan tumbuh. Untuk itulah kita hidup.


images: tofugu.com

Mar 20, 2018

Manusia tercipta dengan berbagai kelebihan, salah satunya adalah mempunyai akal yang sempurna dibanding makhluk lainnya. Dengan menggunakan akalnyalah manusia bisa berpikir dan berbudaya hingga menciptakan hal-hal baru bagi dunia. 



Manusia tercipta dengan berbagai kelebihan, dan tak jarang setiap orang yang menyadari akan setiap kelebihannya kemungkinan ia akan bisa berhasil memanfaatkan kelebihannya itu untuk mengubah dan mencetak sejarah dunia.



Karya-karya yang telah dibuat oleh mereka tak lepas dari kreativitas dan inovasi yang mereka sertakan dalam setiap perjuangannya, pemikiran-pemikiran out of the boxnya berhasil mengkreasikan sesuatu hal yang mungkin bermanfaat bagi dunia. Mau apapun waktunya entah dulu, kini ataupun nanti, kreativitas dan inovasi penting keberadaanya. 

Ada alasan-alasan mengapa kreativitas dan inovasi itu penting, apa sajakah itu?

1. Menciptakan sesuatu hal yang baru




Kreativitas dan inovasi berperan dalam menciptakan sesuatu hal yang baru ataupun terbarukan. Orang yang ahli dalam berkreativitas dan berinovasi bisa mengubah sesuatu hal yang ada di sekitarnya menjadi sesuatu hal yang bermanfaat, sebagai contohnya adalah sampah, bagi orang yang kreatif sampah itu diolah dan didaur ulang menjadi produk yang menghasilkan uang.


2. Membantu memaksimalkan potensi



Seseorang yang selalu mengembangkan kreativitas dan berinovasi secara tidak langsung ia telah mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, pikirannya akan terus bekerja dan terasah. Berbeda dengan orang yang malas dan tidak mau berjuang, potensinya tidak bisa teroptimalkan dengan baik.

3. Bekal untuk survive

Dengan kita bisa berfikir kreatif dan berinovasi, kita telah memiliki bekal untuk survive di zaman sekarang yang serba dinamis. Keadaan hidup yang selalu berubah-ubah terkadang membuat kita harus berpikir keras untuk menyelesaikan problem-problem yang ada, disinilah terkadang kita harus bisa berpikir out of the box untuk menyelesaikan permasalahan yang ada secara efektif dan efisien. 





Tak jarang orang yang memiliki kreativitas dan mampu berinovasi banyak dicari oleh orang ataupun perusahaan. Banyak perusahaan yang mencari orang yang kreatif dan inovatif demi membantu bisnisnya tetap berkembang ditengah arus globalisasi saat ini. Bagi perusahaan, kreativitas dan inovasi bagaikan nyawa dalam perjalanan hidup perusahaan, tanpa adanya kreativitas dan inovasi tak jarang perusahaan kalah saing dengan kompetitornya dan kemudian hilang begitu saja. 
Perlu adanya kreativitas dan inovasi dalam upaya terus bertahan dalam persaingan dan memenangkan persaingan.

4. Kreativitas dan inovasi menjadi pembeda



Kreativitas dan inovasi bisa menjadi pembeda antara satu dan lainnya, biasanya orang yang selalu kreatif dan inovatif memiliki ciri khas yang membedakan antara dirinya dan orang-orang pada umumnya, Sehingga dia memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri dibandingkan orang pada umumnya.

5. Kreativitas dan inovasi bisa menjadi motivasi




Orang yang memiliki kreativitas dan inovasi tak akan pernah merasa takut dalam menghadapi hidup, karena dia meyakini bahwa apa yang dihadapi dalam kehidupannya akan selalu bisa teratasi. Adanya kreativitas dan inovasi yang dia miliki membuatnya terdorong untuk membuat sesuatu hal yang baru ataupun menjadi bekal untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Referensi: Kompasiana

Mar 11, 2018

Mendengar merupakan kemampuan sosial yang sering luput dikuasai atau diperhatikan oleh kebanyakan manusia.

image: tofugu.com

Pada era media sosial seperti sekarang banyak orang ingin selalu menjadi pusat perhatian, membuat peran menjadi pendengar yang baik pun terlupakan. Menjadi pendengar yang baik manfaatnya tak hanya memberikan rasa nyaman pada lawan bicara,tetapi juga bagi diri sendiri.

"Sebuah kisah itu tidak melulu menjelaskan kehidupan kita, tetapi juga bisa membentuk kehidupan kita," jelas Murray Nossel, Ph.D, penulis buku Powered by Storytelling.

Salah satu hal penting dalam ilmu komunikasi, kata Nossel, adalah mendengarkan orang lain. Hal ini sama pentingnya dengan berbagi cerita sendiri. Dia mengatakan, percakapan yang Anda lakukan dengan satu teman bisa berbeda dengan percakapan bersama teman lainnya, meskipun Anda membicarakan topik yang sama.

"Setiap interaksi sosial memberikan sesuatu yang baru dan mengejutkan,"imbuhnya.

Menjadi pendengar yang baik, sebut dia, bisa membuat Anda memahami kehidupan teman Anda, nilai yang mereka yakini, dan belajar mengenai apa yang membentuk diri mereka hingga sekarang. Richard Carlson, penulis buku Don't Sweat Small Stuff, mengungkapkan,kebanyakan orang menyikapi momen percakapan seperti perlombaan sehingga Anda lupa dengan apa yang Anda bicarakan dan tidak memberikan ruang untuk mendengar tanggapan orang lain.

"Kita sering kali melihat komunikasi itu seperti lomba dengan tujuan menumpahkan semua cerita tanpa ada jeda sehingga lupa awal dan akhir tujuan dari percakapan tersebut. Memotong pembicaraan orang lain membuat Anda semakin stres karena Anda tidak memberikan orang itu waktu untuk menjelaskan semuanya hingga selesai. Cobalah untuk diam dan mendengarkan, Anda akan merasakan tekanan itu hilang perlahan dari tubuh Anda," urai Carlson seperti dikutip Inc.

Berikut ini adalah tiga waktu dalam hidup saat Anda harus menjadi pendengar yang baik:


1. Mendengarkan teman yang tengah menghadapi kesulitan

Teman Anda mengalami kejadian tidak menguntungkan dalam hidupnya, misalnya,dia dipecat dari perusahaan tempat dia bekerja selama bertahun-tahun. Jangan langsung menghakimi.

Nossel menyarankan untuk Anda mendengar semua cerita teman tersebut,rasakan dari nada suara dan ekspresi wajahnya, apakah kejadian ini dipandang baik atau buruk olehnya.

Jadi, misalnya teman Anda justru ingin merencanakan masa menganggurnya nanti diisi dengan melakukan perjalanan yang tidak pernah sempat dia lakukan saat bekerja,maka sebagai teman, berikanlah dukungan dan semangat. Jika waktu dan biaya memungkinkan, maka Anda bisa menawarkan diri untuk menemaninya.

Namun, apabila dia merasa sedih dan kecewa, maka sebagai teman sebaiknya Anda mendengarkan ceritanya serta semangati dia untuk kembali bangkit.

Jangan menginterupsi cerita seseorang yang tengah merasa panik dan sedih. Pasalnya,hal ini justru akan membuat dia merasa bahwa Anda menilainya denganpikiran-pikiran yang negatif.

2. Berselisih pendapat dengan pasangan

Pertengkaran, selisih pendapat, dan saling diam biasa terjadi dalam sebuah hubungan.

Menurut Joseph Cilona, seorang psikolog klinis berlisensi di Manhattan, New York, Amerika Serikat, pasangan yang sering berargumen itu normal, meskipun lebih sering dari pasangan lain. Tidak ada ukuran pasti mengenai jumlah pertengkaran yang normal untuk pasangan.

"Pertengkaran dan selisih pendapat dalam hubungan merupakan tanda Anda saling peduli," jelas Ramani Durvasula, Ph. D, penulis Should I Stay or ShouldI go, seperti dikutip Glamour.

Pernyataan yang datang dari ekspresi emosional, kata Nossel, tidak selalu mudah untuk dihadapi.

Dia menyarankan, lain waktu Anda memiliki perbedaan pendapat dengan pasangan, cobalah untuk menenangkannya dengan memperlihatkan sikap Anda bersedia mendengarkan.

Berikan perhatian pada pasangan dengan membantunya memecahkan masalah yang dia anggap sebagai konflik.

Nossel mengatakan, jangan berdebat, jangan membuat kondisi makin runcing,dan hindari segala topik yang bisa membuat suasana semakin panas.

3. Percakapan dengan rekan kerja

Hubungan profesional dan bisnis membutuhkan komunikasi dua arah yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

"Orang merasa lebih produktif ketika mereka merasa berada dalam tujuan yang sama," ungkap Nossel.

Atasan, bawahan, dan sesama rekan kerja bisa berubah menjadi katalisator perubahan positif di ranah kerja.

Nossel merekomendasikan para manager untuk rutin mengadakan meeting dengan tim kerja.

Selain untuk mengetahui perkembangan pekerjaan, manager harus mengetahui mengenai apa yang dialami dan dilalui karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan.

"Obrolan santai di dapur kantor dan lift bukanlah percakapan berkualitas.Anda harus meluangkan waktu lebih dari lima menit untuk benar-benar mendengarkan dan memahami kebutuhan serta tantangan kinerja karyawan," pungkasnya.