Jun 12, 2016

Sekolah Master, Sekolah yang peduli akan pendidikan kaum marjinal

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. 


Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” 
 -  
Anies Baswedan




Saya bersama Pak Nurrohim, Pendiri sekolah Master (Masjid Terminal)

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk mewawancarai pendiri sekolah Master, Pak Nurrohim. Beliau merupakan sosok yang ramah yang sangat peduli akan pendidikan masyarakat kaum marjinal.

Suara ingar-bingar menjadi menu sehari-hari di Terminal Depok, Jawa Barat. Kernet dengan suara nyaring sibuk mencari penumpang. Sekelompok pengamen cilik dengan alat musik seadanya menjual suara di atas angkutan umum, berharap mendapat uang receh dari para penumpang. Di sudut lain, pedagang asongan berteriak menjajakan dagangannya.

Di tengah riuhnya aktivitas terminal, ratusan siswa belajar di sekolah yang ada di kawasan Terminal Depok. Mereka berasal dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Jangan bayangkan bangunan sekolahnya berupa gedung permanen bertingkat. Apalagi dilengkapi fasilitas penyejuk udara seperti lazimnya bangunan sekolah unggulan yang bertebaran di seputar Depok.

Gedung sekolahnya hanya berupa bangunan semipermanen bercat hijau. Ada juga enam kontainer yang disulap menjadi ruang kelas. Kesan pertama saat melihat ruang-ruang kelas dari kontainer itu seperti di taman bermain. Warna biru muda, hijau, merah muda, dan kuning melapisi dinding kontainer, menyambut siapa saja yang datang.
Sebagian besar siswa sekolah yang diberi nama Sekolah Master (akronim dari masjid terminal) itu adalah anak jalanan yang berprofesi sebagai pengamen dan pedagang asongan. Mereka mencari nafkah di Terminal Depok. Ada juga anak-anak dari keluarga miskin yang tinggal di sekitar terminal. Karena diperuntukkan bagi siswa miskin, sekolah itu tidak memungut biaya pendidikan satu rupiah pun alias gratis.
Kendati siswanya berasal dari kaum marjinal, bahkan sering mendapat stigma negatif sebagai preman, prestasi akademik yang ditorehkan para siswanya cukup membanggakan. Ada dua orang yang mendapat beasiswa kuliah di perguruan tinggi di Afrika Selatan. Satu orang di Yordania. Sebagian lainnya diterima di perguruan tinggi negeri lokal. "Sekolah Master ini bukan sekadar sekolah, tapi kami ingin membangun peradaban yang nantinya melahirkan agen perubahan dari berbagai penjuru," kata Pak Nurrohim, pendiri sekaligus Kepala Sekolah Master.
Menurut Pak Nurrohim, banyak anak jalanan yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sebagian memang ada yang pernah bersekolah, tapi terpaksa keluar karena ketiadaan biaya atau dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya. Untuk itu, Pak Nurrohim berinisiatif membuka kelas membaca dan menulis.
Kegiatan yang berlangsung di Sekolah Master tak jauh beda dengan kegiatan di sekolah formal. Hanya saja, Pak Nurrohim tidak menekankan pencapaian akademik bagi siswa-siswanya. Namun, untuk siswa yang dinilai punya potensi di bidang akademik, pelajaran formal diberikan dan ada pelajaran tambahan agar siswa berhasil mengikuti ujian akhir nasional. "Kami berikan kisi-kisi, bimbingan belajar juga. Kami arahkan mereka lolos perguruan tinggi, baik luar maupun dalam negeri," ungkapnya.
Untuk siswa yang tidak berminat pada bidang akademik, Pak Nurrohim mencoba mewadahi potensi mereka dengan membangun studio musik, drama, kelas otomotif, desain grafis, taekwondo, dan sebagainya. "Tujuannya, paling tidak mereka yang tidak minat pada bidang akademik punya skill lain yang dapat dijadikan bekal bagi masa depannya kelak," kata Pak Nurrohim.
Sekolah Master memiliki jadwal belajar pagi, dari pukul 07.30 hingga 12.00, untuk tingkat TK dan SD. Selanjutnya, kegiatan belajar siang dikhususkan bagi jenjang SMP dan SMA, dari pukul 13.00 hingga 17.00. Sedangkan malam hari diperuntukkan bagi kelas keterampilan dan siswa yang sudah dewasa tetapi tetap ingin belajar. Setelah kegiatan belajar-mengajar usai, kelas-kelas ini digunakan untuk tidur anak-anak jalanan yang tidak punya tempat bernaung.
Saat ini, Sekolah Master tak hanya ada di Terminal Depok, melainkan juga telah menyebar ke Bandung, Jakarta (Pulogadung), Cianjur, Jonggol, dan Bogor. Lulusan Sekolah Master ini pun setiap tahun mencapai 700 orang. Sedangkan total lulusannya sejak 12 tahun lalu hampir mencapai 4.000 orang.
Lantas, dari mana dana untuk membiayai operasional Sekolah Master? 

Pak Nurrohim mengaku, sebagian biaya diperoleh dari penghasilan usaha kecilnya seperti warung makan dan asongan di sekitar terminal, juga usaha percetakan serta peternakan sapi dan kambing. Selebihnya,  Pak Nurrohim mendapat bantuan dari program corporate social responsibility sejumlah perusahaan. "Sekolah ini tempat orang-orang bingung, mulai dari bingung nggak bisa sekolah sampai yang bingung mau nyumbangin uangnya," tutur Pak Nurrohim berkelakar.
Biaya operasional untuk satu Sekolah Master, misalnya yang di Depok, sekitar Rp 150 juta per bulan. Para pengajarnya tidak disebut guru, melainkan relawan yang di antaranya ada mahasiswa. "Relawan inti ada 80-90 orang, sedangkan relawan pendamping ada 115 orang," kata Pak Nurrohim. Relawan inti adalah relawan yang menandatangani kontrak enam bulan untuk mengajar, sedangkan relawan pendamping adalah relawan tidak tetap.
Tak jarang Pak Nurrohim mendatangkan pengajar tamu, seperti penulis, akademisi, pelaku usaha, dan motivator, untuk memberikan semangat kepada anak-anak jalanan supaya terus belajar, terlebih memberikan mereka kesempatan bermimpi dan mencapai mimpi tersebut. "Ketika anak-anak diajari untuk menggapai impian, maka mereka akan berusaha menggapainya," ujar Pak Nurrohim.
Siapakah sosok Pak Nurrohim? 

Ia mengaku sekadar orang biasa. Namun ia memiliki visi dan komitmen untuk mencerahkan kehidupan orang-orang di sekitarnya, khususnya para anak jalanan. Suami Elvirawati ini mengaku bahwa masa kanak-kanaknya juga suram, tak jauh beda dengan anak didiknya di Sekolah Master.

Hal itu membuka pandangannya bahwa pendidikan mampu mengubah segala-galanya, termasuk menjadikan masa depan yang lebih baik. Ini pula yang menjadi alasan Pak Nurrohim untuk konsisten mengembangkan Sekolah Master. Ia tak ingin anak-anak jalanan itu mengalami nasib seperti teman-temannya sewaktu kecil dulu. "Semua anak itu pada dasarnya baik, cuma kadang cara pendekatan kita saja yang tidak membuat mereka nyaman," katanya. 





3 comments:

  1. Kayaknya dulu pernah di undang jadi bintang tamu di acara Hitam Putih Trans Tujuh ya. Kalau gak slaah sih...

    ReplyDelete