May 15, 2018



Menunda-nunda itu berasal dari kata dasar "Tunda", menurut KBBI, menunda berarti : Selalu atau berkali-kali menunda, mengulur-ulur waktu, atau memperlama sesuatu. Kamu sendiri pasti sering mendengar dan melihat quotes yang bertemakan menunda, contoh :

Andrie Wongso
"Jangan beri kesempatan pada diri sendiri untuk menunda-nunda sesuatu yang harus dilakukan. Pastikanlah untuk segera bertindak seperti yang telah anda putuskan. Action is Power! "

Seneca
"Ketika kita menunda-nunda, ingatlah bahwa hidup terus berjalan"


Benjamin Franklin
"Jangan menunda-nunda pekerjaan yang biasa kamu lakukan hari ini"

Dari quotes diatas, kita pun tersadar kalau menunda merupakan hal yang tidak bagus karena kita dibiasakan melakukan hal tersebut secara terus menerus, lalu apa saja sih keburukannya?

Membuang waktu

Waktu selalu berjalan,dan waktu yang telah lewat tidak bisa terulang kembali. Setiap detiknya begitu berharga, jadi apakah kamu rela jika waktumu yang berharga dan tidak ternilai itu terbuang begitu saja tanpa suatu hal berarti yang kamu lakukan? Pastinya tidak bukan?

Cenderung Menjadi Pemalas

Terkadang kita menunda sesuatu karena kita merasa capek dan tidak mood, dan jika kecenderungan tersebut dibiasakan terus maka lama-kelaman akan tumbuh menjadi suatu sifat malas.

Menjadi Tidak Disiplin

Karena kebiasaan yang suka menunda-nunda, maka jika di biarkan terus tentu saja akan berdampak ke banyak aspek dalam keseharian kita, misalnya menjadi sering terlambat, pekerjaan dan tugas terabaikan, sering sekali mengabaikan janji, atau mengabaikan ketentuan waktu seperti tanggal jatuh tempo dan lainnya. Sangat buruk bukan?

Menjadi Beban Pikiran

Akibat terlalu sering menunda-nunda, sehingga disaat deadline telah tiba dan kamu barulah menyadari bahwa tugas atau pekerjaan kamu ternyata menjadi sangat banyak akibat sering di tunda-tunda, hingga bertumpuk. Alhasil kamu menjadi stress dan jadi beban pikiran.

Pribadi Yang Tidak Termotivasi


Karena sering menunda-nunda, seseorang pastinya tidak mempunyai motivasi dalam melakukan pekerjaan. Karena kebiasaan tersebut sudah menjadi hal yang wajar, maka secara logika bahwa pastinya tidak ada suatu motivasi yang ada di dalam diri kamu untuk melakukan sesuatu atau pekerjaan, dan akan selalu timbul sikap ogah-ogahan dalam melakukan sesuatu, bosan, malas dan sejenisnya.

Menunda pekerjaan sekarang sama saja dengan mengumpulkan pekerjaan di hari esok

May 14, 2018


(Images: tofugu.com)


Bayangkan ini.

Kamu adalah calon investor yang sedang mendengarkan presentasi seorang mahasiswa tentang perusahaan yang sedang dia kembangkan bersama dengan teman – teman se-kuliahnya. Dia punya ide untuk membuat toko kacamata online.

Ide yang berpotensi, kamu pikir. Tapi orang yang beli kacamata biasanya menyocokkan dulu kacamata dengan mukanya, hal yang susah kalau kacamatanya dijual online. Perlu effort yang lebih tinggi untuk membuat pembeli tertarik membeli di toko kacamata online.

Dengan sisa waktu 6 bulan lagi sebelum launching, dan dengan website yang bahkan belum mereka buat, kamu menjadi skeptis. Jadi kamu coba cek keseriusan mereka, dengan menanyakan ini:

“Di saat mepet -seperti saat ini- apa kalian pernah terlintas untuk DO dan fokus pada perusahaan?”

“Wah kami gak berani pak. Kami juga masih ragu juga dengan ide kami, jadi kami mengerjakan ini sambil kuliah saja”

Masuk akal kalau mereka masih mau kuliah, tapi tidak yakin dengan idenya sendiri? Kamu tambah skeptis.

Walaupun begitu, masih ada harapan. Kamu bertanya lagi kepada mereka:

“Karena kalian masih kuliah, waktu kalian untuk mempersiapkan launching juga terbatas. Apakah kalian akan fokus hanya untuk persiapan ini selama 6 bulan kedepan?”

“Oh, kami semua juga ada mengambil magang di perusahaan lain di saat itu. Saya sendiri mendapat magang di perusahaan konsultasi”

Dengan waktu yang terbatas dan deadline yang semakin dekat, mereka bahkan masih terpikirkan untuk ambil magang? Apa benar mereka serius?

Tapi kamu juga tahu kalau beberapa bulan kedepan mereka akan lulus dari kuliah. Jadi seharusnya mereka punya waktu luang lebih banyak untuk dedikasi dan fokus pada perusahaan.

“Sebentar lagi kan kalian bakal lulus, berarti setelah itu kalian semua bisa fokus ke perusahaan ya”

“Sebenarnya tidak juga pak, kami semua sudah diterima di tempat kerja lain, untuk jaga – jaga kalau perusahaan ini tidak berprospek nantinya. Saya sendiri juga sudah dapat tawaran dari perusahaan konsultan tadi untuk kerja full-time”

Dengan itu, kamu menolak untuk investasi di perusahaannya.

Mana ada entrepreneur yang terlalu takutan, gak mau ambil resiko, dan di saat paling krusial, malah gak fokus ke perusahaannya?

Tapi justru itulah yang dilakukan oleh para founder Warby Parker.

Warby Parker adalah perusahaan penjual kacamata online pertama di Amerika. Saat ini, dia sudah menerima pendanaan sebesar 300 Juta Dollar, dan memiliki valuasi sebesar 1.2 Miliar Dollar.

Cerita di atas didasarkan pada kisah yang nyata.

Saat itu Adam Grant, professor psikologi dari Penn State University, diberikan presentasi yang sama oleh Neil Blumenthal, penemu Warby Parker yang juga muridnya. Seperti yang diceritakan di atas, Adam menolak proposisi Neil.

Kenapa para penemu Warby Parker bisa sukses, padahal apa yang mereka lakukan sepertinya tidak sejalan dengan sifat entrepreneur yang sukses?

Bukankah entrepreneur yang sukses adalah mereka yang gemar mengambil resiko dan tidak menunda – nunda?

Di bawah, kita akan lihat kenapa jawaban dari pertanyaan ini adalah “tidak”.

Kebanyakan Resiko Tidak Baik

Dalam pikiran kita, entrepeneur yang sukses adalah mereka yang berteman dengan tantangan. Tidak seperti orang awam yang sebisa mungkin menghindari resiko, mereka justru terlihat gemar mencari resiko.

Padahal kalau kita lihat lebih dalam, mereka juga sama seperti manusia biasa. Mereka juga kadang merasa tidak yakin dengan ide mereka sendiri, karena mereka melihat resiko besar yang muncul dengan ide tersebut.

Selain Warby parker, banyak orang sukses lain yang mengambil pekerjaan di luar perusahaan mereka.
Misalnya Steve Wozniak, yang setelah menyelesaikan produk Apple 1 dan membuat perusahaan Apple bersama Steve Jobs, masih melanjutkan pekerjaannya di HP.

Contoh lain adalah Brian May, yang saat itu sedang menjalani studi S3 astrofisika selagi bermain gitar di dalam band sampingannya. Dia tidak ikut fulltime ke dalam band-nya, Queen, sampai beberapa tahun berikutnya.

Kok, pilihan mereka malah terbalik dari yang dipercaya? Tapi pilihan mereka juga didukung oleh riset.

Joseph Rafiee dan Jie Feng melakukan sebuah riset untuk menelusuri apakah seorang entrepreneur baru sebaiknya melepas pekerjaannya untuk fokus pada perusahaan, atau sebaiknya dia mengambil pekerjaan di luar selagi mengurus perusahaannya. [1]

Mereka menemukan kalau orang – orang yang mengambil pekerjaan di luar perusahaannya memiliki tingkat kebertahanan sebesar 33% lebih tinggi dibandingkan orang – orang yang semata – mata fokus ke perusahaan mereka.

Memang di tahap awal, ketika perusahaan belum terlalu besar, merupakan masa dimana kita harus paling berhati – hati. Kita tidak tahu pasti apakah perusahaan kita berprospek bagus atau tidak kedepannya.

Founder Warby Parker tahu betul akan resiko gagalnya perusahaan mereka. Karena itu, mereka berhati – hati, dan mengimbangi resiko ini dengan mengambil pekerjaan lain. Karena kehati – hatian inilah, perusahaan mereka lebih tinggi tingkat kebertahanannya.

Karena perusahaan yang mereka coba kembangkan memiliki resiko besar untuk gagal, mereka mencari keamanan di tempat lain, dengan cara mengambil pekerjaan di luar. Dengan adanya keamanan di satu tempat, mereka bisa mengambil resiko sebesar – besarnya untuk perusahaan mereka.

Entrepreneur yang paling sukses bukanlah yang terjun bebas tanpa mengecek parasut mereka. Tapi mereka yang mengecek tiga kali parasutnya, menghitung trajektori tempat mereka akan mendarat, dan membuat plan b apabila tiba – tiba semuanya gagal saat terjun.

Agak Ntaran Deh

Sudah jadi kepercayaan umum rasanya, bahwa untuk sukses kita tidak boleh menunda – nunda pekerjaan. Walaupun deadline-nya minggu depan, baiknya mulai diselesaikan dari sekarang juga.

Tapi kita akan lihat bahwa justru dengan menunda, kita bisa memunculkan inovasi – inovasi kita. Kadang juga orang – orang yang menunda malah yang menang dibanding orang yang mulai duluan.

Seperti Warby Parker, yang hanya dengan sisa waktu 6 bulan bahkan belum membuat website, ada juga satu orang revolusioner yang menggunakan sifat menunda-nya untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dia.

Martin Luther King Jr. terbangun di malam sehari sebelum pidato terkenalnya. Pidato ini akan ditonton oleh jutaan orang di dunia, dengan banyak tokoh – tokoh penting lainnya yang hadir. Dia akan menyampaikan pidatonya di urutan terakhir, sehingga krusial untuk apa yang dia sampaikan memunculkan inspirasi dan membuat kesan yang kuat.

Walaupun dengan gravitasi keadaan sebesar itu, bahkan sampai jam 3 dini hari naskah pidatonya belum juga selesai. Padahal dia bisa saja menyelesaikan naskah berhari – hari sebelumnya.

Tapi mungkin justru karena penundaan inilah, pidatonya bisa memberikan efek se-historis yang kita ingat sekarang. Alasannya: Menunda atau prokrastinasi adalah satu mode pembelajaran di dalam otak kita.

Manusia memiliki dua mode pembelajaran: mode fokus dan mode difusi. Mode fokus adalah ketika kita berpikir secara sadar untuk memproses informasi di dalam otak. Mode difusi adalah ketika kita membiarkan pikiran bawah sadar kita memproses informasi yang kita punya. Otak kita belajar dengan paling efektif apabila kita bergantian menggunakan mode fokus dan mode difusi [3]

Ketika kita sedang dalam mode difusi, informasi yang kita miliki diproses secara tidak sadar oleh otak, sehingga informasinya menjadi lebih matang di dalam pikiran.

Saat MLK menunda pembuatan naskahnya, dia membiarkan pekerjaan tersebut berjalan di belakang kepalanya, sehingga ketika sampai waktu untuk membuat naskah, semua ide yang mau dia jelaskan sudah matang.

Selain secara psikologis, menunda juga punya kelebihan dalam dunia persaingan.

Perusahaan yang masuk lebih lama bisa menggunakan waktunya untuk memperkenalkan produk yang lebih berkualitas, daripada perusahaan pionir yang bergerak terburu – buru untuk lari dari perusahaan lain yang mengejar dari belakang.

Peter N. Golder melakukan sebuah riset untuk mengetahui mana yang lebih banyak punya kelebihan, para pionir atau para pengikutnya. Dia menemukan kalau 47% pionir market pada akhirnya gagal, dan hanya 11% pionir yang saat ini menjadi penguasa pasar di bidangnya. Dia juga menemukan kalau rata - rata penguasa pasar masuk 13 tahun setelah pionir masuk.

sumber

kesimpulan:

Entrepreneur, lain dengan kepercayaan umum, juga takut kepada resiko dan kadang menunda – nunda.

Walaupun begitu, mereka menggunakannya untuk mendukung, bukan menghalangi usaha mereka.

Mereka takut kepada resiko, karena takut kedepannya pilihan mereka bukanlah yang terbaik. Jadi mereka menyeimbangi resiko yang mereka pegang dengan keamanan di tempat lain. Mereka tidak menghindari resiko, tapi meminimalisir efek dari resiko yang mereka ambil.

Mereka menunda, karena tidak yakin apakah sekarang adalah waktu yang terbaik. Bisa saja ada inspirasi yang tiba – tiba datang di tengah. Mereka menunda secara strategis, untuk lebih banyak memunculkan inspirasi yang datangnya tidak bisa ditebak.

Ada aspek yang sama dari dua sifat di atas. Keraguan.

Keraguan membuat mereka lebih berhati – hati untuk maju kedepan.

Keraguan membuat mereka menjadi lebih rendah hati. Membuat mereka sadar kalau, walaupun dengan keadaan se-ideal mungkin, ada saja hal di luar dugaan yang akan terjadi.

Jadi, untuk orang – orang yang sekarang sedang berusaha, tanyakanlah pertanyaan ini: Apakah ada keraguan dalam hatimu?

Kalau jawabannya ya, besar kemungkinan kamu berada di jalan yang benar.

May 13, 2018

Kehidupan ini dalam kesehariannya selalu menghasilkan banyak cerita, mulai dari kisah biasa hingga kisah luar biasa yang bisa membuat banyak orang menitikkan air mata. Setiap hidup yang kita jalani tak lepas dari pelajaran hidup yang bisa kita petik. Dari kehidupan ini tak sedikit orang yang mampu memahami kehidupan ini dan keluar menjadi pemenang.





Setiap diri kita memiliki potensi yang terpendam. Meski memang setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, namun sebagian orang atau bahkan segelintir orang mampu memaksimalkan kemampuan dirinya untuk menjadi seorang pemenang. Lalu bagaimanakah cara memaksimalkan kemampuan diri kita untuk meraih kesuksesan? Berikut paparannya..

1. Mengenal diri sendiri


Untuk bisa menjadi orang yang sukses tentunya di mulai dari mengenal diri sendiri baik dari kelebihan dan kekurangan diri. Setiap orang punya ciri khas dan juga karakter khusus yang dimilikinya sehingga memiliki perbedaan yang terkadang mencolok dari orang lain. Semakin kita bisa mengenal diri sendiri akan membuat kita semakin memahami apa yang harus dilakukan untuk bisa memaksimalkan kemampuan dan potensi diri untuk meraih target-target penting dalam kehidupan serta mampu mengatasi kelemahan dan bahkan mengubah kelemahan diri menjadi sebuah kekuatan.

2. Mencoba hal-hal baru

Jangan ragu untuk mencoba hal-hal baru dalam kehidupan selama itu bernilai positif. Dengan mencoba hal-hal baru maka itu dapat memancing potensi diri kita keluar, karena seringkali potensi-potensi diri tak akan muncul kecuali dengan memancingnya keluar dengan berbagai cara termasuk memberanikan diri mencoba hal-hal baru dalam konteks yang positif.

3. Kembangkanlah soft skill

Soft skill sangatlah menunjang diri kita dalam upaya memaksimalkan kemampuan pribadi. Pelajari dan kembangkan soft skill dalam berbagai bidang yang bisa menjadi media kita untuk meraih kesuksesan seperti melatih public speaking, ilmu leadership, marketing, manajemen, teknik penulisan hingga ilmu bahasa. Jangan ragu untuk mengembangkan soft skill apalagi saat usia masih muda, sebab bila kita memiliki banyak soft skill bukan tak mungkin tak akan sulit dalam meraih pekerjaan atau terjun ke dunia bisnis.

4. Ikut Organisasi

Di organisasi kita akan menemukan banyak karakter orang yang berbeda dengan ragam cara memahami setiap orangnya. Tantangan secara organisasi lebih besar dibandingkan dengan secara individu, hal ini karena pemikiran secara organisasi mengharuskan untuk bergerak bersama-sama dan harus menghilangkan keegoisan diri. Adanya miss komunikasi hingga perbedaan pendapat bisa menjadi tantangan bagi setiap individu untuk bisa memaksimalkan kemampuannya dalam berorganisasi.

5. Miliki partner

Bergerak secara individu terkadang kurang semangat, tidak salahnya kita harua memiliki partner dalam upaya memperjuangkan mimpi dan cita-cita seperti teman yang selalu ada di sisi. Dengan adanya partner hidup kita bisa tambah semangat karena ada seseorang yang selalu mengingatkan dan memberi semangat saat sedang down.

6. Buat rencana secara tersusun


Penting untuk kita membuat sebuah rencana, hal ini bertujuan agar diri kita bisa lebih fokus dalam memaksimalkan kemampuan diri dalam upaya menuntaskan setiap cita-cita yang dibuat. Dengan adanya rencana yang tersusun kita dapat memprioritaskan mana yang harus lebih dulu dilakukan dan mana yang tidak.

sumber:
sumber 1
Sumber 2
Sumber 3

May 2, 2018


Kali ini saya akan membahas mengenai pendidikan. Pendidikan merupakan suatu faktor yang sangat penting untuk menunjang tingkat pertumbuhan suatu negara, semakin tinggi tingkat pendidikan warga negara maka kemungkinan besar negera tersebut akan semakin cepat berkembang dan bertumbuh menjadi negara maju, walaupun masi ada faktor lain, tetapi pendidikan menjadi faktor yang sangat penting. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para guru dan semua yang telah berkontribusi terhadap pendidikan di negara kita, menurut saya pendidikan di Indonesia memiliki beberapa kekurangan yang masih bisa dipenuhi demi tercapainya Index pembangunan manusia yang mumpuni.

1. Menghafal

Salah saty hal yang sangat salah dari pendidikan di Indonesia adalah murid-murid yang di suruh menghafal pelajaran, padahal hal yang seharusnya dilakukan murid adalah mengerti mengenai pelajaran tersebut.

bagaimana cara murid bisa mengerti suatu pelajaran adalah menjadi tugas guru? 

kita sebagai murid dijejali dengan berbagai macam ruus yang tidak jelas dan dipaksa harus menghapal, padahal dalam kehidupan di dunia kerja nanti seandainya kita lupa terhadap suatu rumus ya kan bisa buka buku lagi.

2. Guru yang terbatas

Guru menjadi garda terdepan untuk membentuk masa depan bangsa, karena dari merekalah ilmu akan diturunkan kepada calon calon penerus bangsa nanti, yang menjadi perntanyaannya adalah:

Apakah Guru sudah mendapatkan kesejahteraan?

Kalau ditanya sekarang apa cita-cita kepada anak-anak mungkin hanya sedikit yang akan menjawab menjadi guru, dan juga banyak orang-orang yang lulus dari fakultas keguruan lebih tertarik untuk bekerja di bidang lain, hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian pemerintah. ya mungkin guru di DKI sudah agak sejahtera, tapi bagaimana dengan guru yang ada di daerah?

3 Pelajaran Yang Terlalu Banyak

Mata pelajaran yang diberikan untuk siswa siswi pelajar baik dari SD-SMA menurut saya terlalu banyak, kisaran dari 10-15 matapelajaran, hal tersebut menurut saya kurang efisien karena akan berdampak buruk terhadap daya mengerti dan otak anak.

coba kita bandingkan dengan matapelajaran dari luar negeri, mereka menawarkan hanya sekitar 6-9 matapelajaran, itupun matapelajarannya dipilih oleh siswa siswi sendiri sesuai dengan minat mereka, sehingga lebih effisien dalam mengejar cita-cita mereka, sebagai contoh saya ingin menjadi seniman, ya kan ngapain saya belajar fisika, ya memang ga ada yang salah dengan belajar yang bukan diingikan tapi menurut saya kurang effisien.

Siswa siswi menjadi tidak fokus karena terlalu banyak yang harus mereka pelajari, tidak semua siswa siswi punya kemampuan untuk mempelajari hal yang banyak karena semua orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, dibandingkan hal tersebut mungkin sebaiknya siswa siswi diberikan pelajran yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak ketika mereka keluar dari dunia pendidikan dan memasuki dunia kerja atau dunia nyata

Selamat hari pendidikan nasional